Ujian Nasional (UN) antara “Amal Jariyah” dan Dosa Jariyah”

18Mar13

Ujian Nasional (UN) tahun 2014 sebentar lagi dilaksanakan. Tetapi banyak sekali sekolah yang sedang mengalami kegalauan. Kegalauan itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah (Depdiknas) yang membuat aturan baru berupa ┬ásusunan variasi soal menjadi berbeda antar siswa dalam satu ruang dan juga menggunakan sistem barcode (barisan kode) yang tidak bisa diketahui oleh fihak-fihak tertentu yang terlibat dalam “kecurangan” dalam pelaksanaan UN di tahun-tahun sebelumnya.
Perubahan mekanisme UN dari 5 (lima) variasi menjadi 20 variasi dari total 60 variasi yang ada bukan tanpa sebab. Menurut juru bicara kementrian pendidikan dan kebudayaan, kibijakan ini dilakukan untuk menekan tindakan berbuat curang yang dilakukan oleh oknum guru dan kepala sekolah yang dengan segala cara menghendaki seluruh siswanya lulus 100% dan predikat nilai yang memuaskan. Kecenderungan kecurangan itu tersistem mulai dari hulu di tingkat kabupaten sampai ke hilir di tingkat sekolah.
Sebenarnya kalau dikaji secara filosofi lembaga pendidikan (sekolah) adalah ladang untuk mencari “amal jariyah” untuk kehidupan setelah mati (alam kubur/barzah), tetapi dalam kenyataan filosofi ini menjadi terbalik 180 derajat menjadi ajang “Dosa Jariyah” di akhirnya. Pendidikan dikatakan sebagai ladang “amal Jariyah” jika guru dan kepala sekolah benar-benar telah mengajarkan dan telah mendidik siswa dengan materi pembelajaran yang di amanatkan oleh UU dan pemerintah sekaligus membentuk sikap (attitude) siswa melalui penerapan 18 karakter yang dikenal dengan jargon “Pendidikan Karakter”. salah satu pendidikan karakter yang tidak pernah akan hilang adalah sikap Jujur. Siswa harus bersikap dan berprilaku jujur dalam kehidupan bersekolah dan bermasyarakat.
Pendidikan dikatakan sebagai “Dosa jariyah” karena dalam pelaksanaannya tidak sedikit sekolah yang didalangi oleh oknum kepala sekolah dan di dukung guru melakukan “Mal Praktek” dalam pendidikan, antara lain melakukan kecurangan dalam pelaksanaan UN dengan berbagai bentuk, Antara lain : memberikan jawaban kepada siswa, membocorkan soal dan bekerja sama dengan fihak lain untuk membocorkan soal UN.
Dalam pelaksanaan UN ditemukan fakta dan data terjadinya penyelewengan terstruktur oleh oknum kepala sekolah dan oknum guru. banyak sekali tayangan oleh media massa yang menayangkan dan menulis berbagai bentuk kecurangan. Namun seolah kabar itu hanya sebatas berita isu selebritas yang tidak ada implikasinya terhadap karakter generasi penerus bangsa. Padahal sangat berpengaruh terhadap pembentukan generasi penerus bangsa. Apa jadinya generasi ini jika dalam pendidikan siswa diajari “Kurikulum berbasir kecurangan” terutama dalam pekaasanaan UN?. tentu akan melahirkah generasi-generasi yang korup di negeri ini, karena di sekolah sudah terbiasa diajari kecurangan.
Hal itu terus terjadi dan berjalan semakin ter Update.. seolah menjadi budaya bahwa di sekolah selalu diajari kecurangan oleh guru sejak SD – SMA. Meskipun tidak semua sekolah, tetapi mayoritas sekolah di daerah yang belum mempunyai kultur organisasi intelektualitas yang tinggi telah terbiasa melakukan bentuk Malpraktek pendidikan ini. Sekolah selalu menerapkan standar ganda dengan melakukan pengajaran kecurangan dalam pelaksanaan UN, seharusnya sekolah melaksanakan UN sesuai dengan Juknis yang diberikan oleh pemerintah dengan segala konsekwensinya.
Jika guru mengajarkan ilmu pengetahuan (kebaikan) maka secara filosofis dalam agama Islam akan mendapatkan “Amal Jariyah” seluruh kebaikan yang dilakukan oleh siswa sepanjang hidupnya kelak akan mengalir dan diterima sebagai berkah di dalam kuburnya (guru). Sebaliknya Jika guru mengajarkan kecurangan dalam UN dan ilmu kecurangan itu terus dipakai oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari, Para Bapak/Ibu guru tentu setuju jika saya katakan, kelak akan mendapatkan “Dosa Jariyah” yang akan diterima di Alam Barzah. Na’udubillah”.
Jaman sekarang keimanan semakin luntur, kebanyakan manusia lupa dan melupan diri bahwa kelak praktek pengajaran di sekolah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh SWT. Segala kebaikan yang kita berikan kepada siswa akan kembali kepada kita, sebaliknya segala keburukan yang kita ajarkan kepada peserta didik juga akan kembali kepada diri kita. Oleh karena itu seyogyanya kita bisa memilih, memilah sekaligus melakukan praktek pengajaran yang benar (haq) sesuai tuntutan Dinul Islam. Jangan kita terbawa oleh arus kepentingan sesaat yang melupakan konsekwensi yang bernuansa Ubudiyah/ibada/pengabdian kepada Alloh SWT. Sehingga kita bisa diatur sedemikian rupa dengan melaksanakan yang batil dan melepas yang Haq, hanya demi penilaian atasan yang hanya seorang manusia yang bisa menjerumuskan. Kita harus “Kaffah” Salah (batil) tetap salah kita berusaha sekuat tenaga untuk tidak melaksanakan. Yang benar (haq) kita tegakkan sampai akhir hayat.

Akhir kata marilah kita sebagai guru/kepala sekolah menanamkan “amal jariyah” pada peserta didik dalam melakukan proses pendidikan. dan jangan sekali-kali melakukan “dosa jariyah” dalam pendidikan karena semua berlaku hukum sebab akibat atau dalam istilah fisika aksi & reaksi.
Semoga jadi pemikiran para guru di negeri ini! sehingga tidak ada Malpraktik dalam pendidikan dan pelecehan profesi keguruan.

Makhrus Ali, M.Pd
Guru SMAN 4 Bangkalan



No Responses Yet to “Ujian Nasional (UN) antara “Amal Jariyah” dan Dosa Jariyah””

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: