Ru’yatul Hilal (penentu awal bulan)

12Jul13

Penentuan bulan baru dalam Islam menjelang 1 romadhan (awal puasa) atau 1 syawal (akhir puasa) sering meimbulkan polemik. sehingga memunculkan perbedaan keputusan. Pada tahun ini 1434 H / 2013 Masehi, Ormas terbesar ke 2 Muhammadiyah memutuskan awal puasa jatuh pada selasa, 9 JUli 2013 sedang 13 ormas Islam yang lain mengikuti hasil sidang Isbath yang diadakan oleh kementrian agama RI dan didukung oleh kementrian agama Malaysia dan Singapore, memutuskan awal puasa jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013. Mengapa perbedaan ini bisa terjadi? padahal di satu wilayah Negara Kesatuan  Republik Indonesia.
Setelah penulis menelusuri dasar yang digunakan oleh masing-masing dalam mengambil keputusan sampailah pada kesimpulan berikut:

Muhammadiyah: dasar yang digunakan adalah “Wujudul Hilal” apabila hilal sudah wujud/Tampak, maka berapapun besarnya yang telah tampak, tidak harus menunggu 2 (dua) derajat, maka hari sudah berganti / sudah masuk bulan baru. Oleh karena itu muhammadiyah memutuskan 1 Romadon jatuh pada hari selasa, 9 Juli 2013. karena bulan sudah nampak/wujud meskipun nilainya 0,65 derajat.
Departemen Agama RI: dasar yang digunakan adalah “wujudul hilal 2 derajat atau lebih” jika wujudul hilal belum sampai 2 derajat maka belum ganti bulan/masih sa’ban. oleh karena Puasa tahun ini berdasarkan pengamatan dengan teleskop di 6 titik di wilayah RI rata-rata menemukan angka 0,65 derajat. sehingga pemerintah dalam sidang Isbath di kemenag memutuskan awal puasa jatuh pada hari Rabu, 10 Juli 2013.
Dari kedua kubu ini jika di analisa maka yang manakah yang lebih mendekati kebenaran?
penulis mencoba berijtihad; sampai pada pendapat sebagai berikut:
Dalam hadist Rasul tidak pernah ada ungkapan 2 derajat, dalam hadist Rosul dikatakan berpuasalah/berbukalah jika bulan sudah tampak (Hilal) sebagai penentu bulan baru baik bulan baru pada 1 Romadhon atau 1 syawal. Jika bulan belum/tidak tampak karena terhalang oleh awan maka genapkanlah hari di bulan itu menjadi 30 hari.
Pada jaman sekarang jaman serba dan penuh dengan kecanggihan teknologi maka tidak ada alasan bulan tidak tampak karena menggunakan alat bantu teknologi (teleskop), termasuk besaran sudut yang dibentuk hasil pengamatan (tahun ini 2013 ; 0,65 derajat). Secara keilmuan 0,65 derajat sudah mempunyai nilai (angka penting: fisika) jika ditafsirkan maka bulan sudah wujud/tampak; otomatis selasa sudah masuk 1 Romadhon (kajian Ilmiah).
Mengapa kemenag tidak mengambil dasar “wujudul Hilal” saja? kemenag ngotot pada angka 2 derajat, menunggu 2 derajat. padahal istilah wujudul hilal tidak ada ketentuan 2 derajat, boleh kurang dari 2 derajat. Andai 0,0001 pun hilal sudah dapat dikatakan wujud. secara ilmiah kemenag RI salah,… meskipun diikuti oleh warga negera kebanyakan.
Andai kemenag salah maka siapa yang menanggung dosa warga yang ikut puasa di bulan Romadhon Rabu, 10 Juli 2013? tentu pembaca  setuju, jika yang dosa adalah pemerintah. Lantas siapakah pemerintah? tentu Menteri Agama (Surya Dharma Ali) meskipun bagi pengikut pemerintah tettu ada dasar. Dasarnya dalam alqur’an adalah “Atiulloh Waitiurrosul, Waulil amri minkum” taatlah kepada Alloh, kepada Rasul dan Kepada pemerintah diantara kalian”.
Kesimpulan: keputusan PP Muihammadiyah lebih masuk akal (mendekati kebenaran) dibanding keputusan hasil sidang isbath kemenag RI. karena dalam fisika 0,65 derajat sudah mempunyai arti penting/ bulan sudah wujud. dan keputusan ini lebih hati-hati dari pada yang lain.

Semoga menjadi bahan kajian dan pertimbangan para tokoh Islam di Muka bumi (Indonesia khususnya) untuk meluruskan dasar pengambilan keputusan 1 Romadhon atau 1 syawal di tahun-tahun mendatang sehingga keputusan pemerintah lebih mendekati kebenaran tidak mendekati kesalahan.
Wallohu A’lamubissowab.



2 Responses to “Ru’yatul Hilal (penentu awal bulan)”

  1. 1 pencari haq

    semua itu ijtihad,sama2 memahami petunjuk quran dan hadis nabi..mestinya,lebih tepat, muhammadiyah membuktikan wujud hilal dengan rukyat, benar2 sdh tampak atau blm,jgn dgn hisab saja..pemerintah dan ormas lainnya tdk mau meninggalkn perintah nabi dgn praktik rukyah,hisab sebagai panduan saja (di dalamnya media rukyah dan kriteria yg sdh disepakati para pemikir yg berkompeten)

    • Semestinya pemerintah lebih teliti dalam mengambil dasar pengambilan keputusan sehingga ummat tidak terombang-ambing (saran)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: