Jeritan Hati Seorang Guru

Kasus yang disoroti

Beberapa hari yang lalu, hampir semua harian menulis penundaan pengumuman hasil Ujian Nasional untuk sekolah SMA dan SMP, karena telah ditemukan 33 sekolah SMA dan SMP yang muridnya 100% tidak lulus mata pelajaran tertentu. ketidak lulusan disebabkan karena ada  indikasikan adanya kecurangan yang terstruktur yang dilakukan oleh tim sukses guru dan siswa. Sungguh ironi pendidikan jaman sekarang!…

Akhirnya pemerintah mengambil kebijakan untuk mengulang Ujian serupa agar siswa yang tidak lulus mendapat kesempatan lulus seperti teman-teman lain di sekolah yang berbeda. Meskipun dengan beragam sikap pro dan kontra yang dilontarkan oleh berbagai kalangan, namun pemerintah tetap pada pendirian semula ujian ulangan harus di adakan. Para rektor dan sebagian besar anggota DPR RI menolak diadakan ulangan UN, karena kecurangan merupakan bentuk pelanggaran prosedur dan aturan dalam pelaksanaan UN. Namun pemerintah sepertinya menutup mata seolah pelanggaran itu tidak ada dan tidak pernah terjadi.

Akhirnya ujian ulangan telah berlangsung tiga hari yang yang lalu 10,11Juni 2009 di beberapa sekolah SMA. sesuai dengan rencana pemerintah (keputusan mendiknas, Bambang Sudibyo).

————————————————————————————————-

Komentar Seorang Guru “Ideal”

Sebenarnya data kecurangan yang ditemukan 33 sekolah di Indonesia ibarat puncak gunung es, yang ter ekspos hanya puncaknya saja tetapi yang melakukan tindakan serupa bisa mencapai 100 – 1000 kali lipat dari jumlah sekolah yang jelas-jelas di ketahui terindikasi melakukan kecurangan. Probabilitas sekolah yang melakukan kecurangan > dari sekolah yang konsisten melaksanakan UN secara baik dan benar.

Lantas mengapa hal itu bisa terjadi?….

Ada beberapa analisa yang cukup signifikan dengan fenomena pelanggaran seperti ini.

  • Selama ini proses pembelajaran di sekolah-sekolah rakyat cenderung tidak menerapkan ketuntasan dalam belajar (mastery learning).
  • Pemerintah dan jajaran birokrasi di bawahnya hanya mengejar kuantitas dari pada kualitas; sehingga kinerjanya cenderung ABS, tidak ada siswa yang tidak bisa/tidak tuntas, semua tuntas. manajer sekolah tidak berani mengambil resiko untuk obyektif dalam penilaian karena resiko jabatan yang dipertaruhkan (tidak ingin kehilangan jabatan).
  • Pendidikan di Indonesia mayoritas dikelola oleh tangan-tangan yang tidak dan kurang profesional (baca;amatiran).
  • Landasan berfikir dalam melakukan tindakan yang Un-educational (tidak mendidik) bukan masalah, yang penting tujuan sesaat dan target jumlah kelulusan mencapai maksimal. Mungkinkah ini sudah merupakan tanda Akhir Zaman?… Wallohu A’lam
  • Sebab-sebab lain yang tidak bisa diungkapkan di sini.

———————————————————————————————–

Alternatif  Solusi

Pemerintah harus meninjau ulang kebijakan UN sebagai penentu kelulusan. UN tetap ada dan terus berjalan, tetapi sekedar untuk pemetaan dan akreditasi sebuah sekolah, karena berapapun tuntutan nilai kelulusan yang ditargetkan 6, 7 atau 8 oleh pemerintah, bagi orang-orang tertentu yang sudah terbiasa berbuat curang, bukanlah masalah. Karena semua bisa di atasi dengan kecurangan. Meskipun kecurangn itu harus dilakukan di depan kelas/siswa!

Sungguh, kinerja akhir sekolah ini sangat ironi. seharusnya guru memberikan contoh cara kerja yang baik dan benar di akhir studi siswa, tetapi malah sebaliknya, guru memberikan pengajaran dan “”kurikulum” baru berupa cara berbuat curang dalam Ujian Nasional.

Alhamdulilllah sampai sekarang selama menjadi  Guru (14 tahun) penulis tidak pernah terlibat dan tidak mau dilibatkan dalam  pengajaran berbuat curang dalam UN. karena hal itu sudah merupakan prinsip hidup yang harus dipegang teguh selama hayat dikandung badan, dan bukan merupakan konteks dari loyalitas.

Kesimpulan

Jika ditinjau dari segi Teori, aturan dalam  melaksanakan Ujian Nasional adalah sesuatu yang baik dan Ideal.

Tetapi Ujian Nasional Banyak mudhoratnya dari pada maslahatnya, jika ditinjau dari pelaksanaannya. Mengapa ini bisa terjadi karena aparatur pemerintah dan pelaksana pendidikan kita “belum dewasa”.

semoga hal ini bisa di dengar dan di baca oleh pengambil kebijakan, tentang Ujian Nasional. Amin!


7 Responses to “Jeritan Hati Seorang Guru”

  1. 1 bambang sujatmiko

    Usulan saya sebaiknya gak usah ada ujian nasional utk menghindari yg tdk lulus. Lebih baik semua siswa luluskan aja semua. Toh gak ada gunanya juga kalo mereka gak lulus. Malah nambah beban biaya org tuanya. Dan yg paling penting itu semua bukan pitakon kubur. Hi hi hi

    • Bambang Sujamiko wong ganteng: sepertinya kalau tidak ada ujian pak menteri gak setuju, karena UNAS untuk peningkatan mutu,. Kalau saya UNAS tetap ada tetapi tidak menjadi penentu kelulusan.

      suwon Broo sudah Mampir!

  2. 3 HENU LISMIYATI

    sebaiknya UN hanya utk pemetaan kualitas pendidikan, bukan utk penentuan kelulusan, biar tdk ada kecurangan! toh pemerintah blm bs menyediakan sarpras pendidikan yg memadai / merata, jd rasanya tdk adil kl smua anak ditentukan kelulusannya dr soal UN yg sama! padahal kondisi anak/guru/sekolah yg satu dg yg lainnya sangat berbeda!

  3. 5 deyra

    Waaah… terlalu general pak.. kurang nyerempet…😛

    Yang terpenting bukan nilai UN yang tinggi sih… tapi bagaimana pemahaman konsep kita pada materi pembelajaran… itu semua bener akan terasa pas kuliah nanti. apalagi kalau mengambil jurusan di bidang teknik dan jenis jurusan yang kompleks seperti jurusan saya..😀

  4. I feel this is one of the such a lot vital info for me.
    And i’m happy studying your article. But should observation on some basic things, The web site style is wonderful, the articles is in reality great : D. Good process, cheers


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: